Tjong A Fie, Legenda Tanah Melayu Deli

TJONG A Fie yang bernama asli Tjong Fung Nam, kelahiran 1860 di Sungkow, Mexian Guangdong, Tiongkok. Ia dilahirkan dari kalangan keluarga sederhana, keturunan orang Hakka. Tjong A Fie memiliki enam saudara, yakni Tjong Chiok Chen, Tjong Yong Hian, Tjong Chiok Kiu, Tjong Chiok Pei, Tjong Chiok Chen dan Tjong Chiok Sien.

Pada tahun 1875, Tjong A Fie merantau ke Indonesia (masa itu bernama Hindia Belanda), tepatnya di wilayah Kesultanan Deli – Melayu Deli, sekarang lebih dikenal bernama Kota Medan. Kala itu Tjong A Fie masih berusia sekitar 15 tahun. Berbekal uang pas-pasan, anak keempat dari tujuh bersaudara itu, menyusul abangnya Tjong Yong Hian yang telah lima tahun lebih dahulu datang ke Tanah Deli.

Rumah Tjong A Fie salah satu cagar budaya kota Medan. Foto: Monang Sitohang

Tanah Deli menjadi pilihan bagi keluarga Tjong A Fie untuk mengadu nasib, kemungkinan besar dikarenakan pada masa itu Tanah Deli sudah tersohor hampir ke seluruh belahan dunia sebagai salah satu penghasil tembakau terbesar yang memiliki cita rasa dan aroma berkualitas internasional. Dari zaman Hindia Belanda, sebagian besar wilayah Deli memang perkebunan tembakau.

Di masa itu, Tjong Yong Hian sudah menjadi Kapitan (pemimpin) bagi kalanganTionghoa di Tanah Deli –Medan. Karenanya, tidak sulit bagi Tjong A Fie untuk mendapatkan pekerjaan. Terbukti, tidak sampai hitungan tahun menginjakkan kaki di Tanah Deli, Tjong A Fie mulai bekerja di toko milik teman abangnya bernama Tjong Sui Fo.

Tidak betah bekerja di toko, berbagai pekerjaan lain pun dilakoninya. Mulai dari memegang buku, melayani pelanggan sampai menagih utang sekalipun dinikmati. Gambarannya, Tjong A Fie adalah seorang pekerja keras, ulet, tekun dan pintar bergaul dengan berbagai kalangan.
Dio salah seorang guide di rumah Tjong A Fie.

Bagi Tjong Yong Hian, sosok adiknya si Tjong A Fie itu punya talenta menggantikan posisinya sebagai pemimpin komunitas Tionghoa di Tanah Deli. Tepatnya 1911 atau setelah 30 tahun lebih Tjong Yong Hian menjadi Kapitan Tionghoa (Majoor der Chinezeen), posisi itu pun berganti kepada Tjong A Fie.

Sejak saat itu hingga sekarang, nama besar Tjong A Fie tak pernah pudar. Selain meninggalkan nama besar, Tjong A Fie juga punya peninggalan yang bernilai sejarah di Kota Medan, yakni bangunan rumah tinggal yang berdiri di atas tanah seluas 6.000 m2 dengan luas bangunan 4.000 meter2, terdiri dari 24 kamar, 40 ruangan dan 2 kamar mandi.

Rumah tinggal itu dibangun tahun 1895 dan selesai 1900, terletak di salah satu kawasan elite Kota Medan yang bernama Kesawan, persis di ujung Jalan Ahmad Yani atau dekat pusat Kota Medan di Tanah Lapang Merdeka, dan tidak jauh dari Istana Maimoon – Istana Kesultanan Deli, kurang lebih dua kilometer.

“Dilihat sisi sejarah dan budayanya, rumah peninggalan Tjong A Fie itu punya histori penting di Kota Medan. Sekarang dijadikan cagar budaya serta menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya,” jelas Dio, seorang guider di rumah peninggalan Tjong A Fie tersebut.

Semasa hidupnya, Tjong A Fie memiliki 11 anak dari tiga istri. Istri pertama Madam Lee berasal dari Cina punya seorang anak (diadopsi). Istri kedua Madam Chew berasal dari Penang, memiliki tiga anak kandung, dan istri ketiga Madam Lim Kei Yap berasal dari Binjai turunan Melayu-Cina-Singapura memiliki tujuh anak kandung.

Gerbang masuk rumah Tjong A Fie salah satu cagar budaya kota Medan. Berkunjung ke rumah Tjong A Fie harus membayar Rp 35 ribu per orang untuk umum dan pelajar Rp 20 ribu dipandu guide. Foto: Monang Sitohang
Di dalam kehidupan sehari-hari, Tjong A Fie selalu menjalankan tradisi sebagaimana di negeri asal, seperti menghormati arwah-arwah nenek moyang, dan menjalankan ajaran-ajaran agama Budha, membangun rumah berdasarkan fengsui, memberikan edukasi kepada anak laki-laki tanpa batasan. Sementara edukasi untuk anak perempuan tidak begitu luas karena saat mau dinikahkan akan memakan banyak biaya.

Sebelum akhir hayat, Tjong A Fie berpesan, ”Bilamana meninggal dunia supaya dikebumikan di Medan.” Hal itu sebagai bukti ungkapan hati atas kecintaannya terhadap pribumi. Pada 4Februari 1921, Tjong A Fie meninggal dunia dalam usia 61 tahun, kabarnya terkena stroke, dan dimakamkan di Pulau Brayan, Kota Medan.

Setelah Tjong A Fie tiada, seluruh harta diurus anak-anaknya. Namun tak terduga, pada 1970 seluruh aset Tjong A Fie diambil alih oleh pemerintah untuk dinasionalisasikan. Antara lain minyak kelapa sawit PTP II Tanjung Morawa dan Tapanuli Selatan, Tembakau Deli Medan, Karet di Kabanjahe, Kopi dan Teh di Sidamanik-Pematang Siantar, Bank Kesawan dan Hotel Dharma Dheli (Hotel D’Bor).***

Catatan :  Monang Sitohang
Sumber : Jayakarta

No comments

Powered by Blogger.